
Jenis – Jenis Pertumbuhan
Tanaman
LAPORAN PRAKTIKUM
Oleh :
Kelompok 1
1.
Miftahul Ulum (151510501085)
2.
Asmuni (091510501083)
3.
Rohikim
Mahtum (111510601099)
4.
Zulfa Nuril H
(151510501001)
5.
Winda Dwi L (151510501002)
6.
Indah Sri
Wulandari (151510501081)
7.
Izzul Lubaba (151510501114)
8.
Tic Tic
Meilinda (151510501120)
9.
Toriq Nurul I (151510501301)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia
merupakan wilayah yang sangat akan keragaman sumber daya alam. Tanaman tumbuh
di wilayah indonesia sangatlah beragam yang tersebar diseluruh wilayah
Indonesia. Pertanian merupakan sektor utama perekonomian negara Indonesia.
Pertanian di Indonesia di tanami berbagai komoditas tanaman mulai dari tanaman
pangan, minuman, dan tanaman obat- obatan. Kondisi iklim tropis di wilayah
Indonesia sangat mendukung atas berlangsungnya kehidupan berbagai jenis tanaman
yang memiliki varietas tanaman yang cukup beragam.
Keanekaragaman jenis tanaman harus dikelola dengan baik
di Indonesia. Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya
bermata pencaharian sebagai seorang petani. Tanaman memberikan banyak manfaat
bagi kehidupan. Tanaman menghasilkan oksigen yang diperoleh dari hasil
fotosintesis dan di gunakan manusia untuk bernafas. Tanaman juga menyumbangkan
sumber energi bagi manusia yang memperoleh dari hasil tanamannya. Manusia perlu
merawat dan melestarikan tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal.
Pertumbuhan tanaman merupakan proses bertambahnya volume
yang bersifat irreversible (tidak dapat balik). Perkembangan merupakan proses
terspesialisasinya sel tanaman menjadi struktur dan fungsi tertentu. Tanaman
dapat dikatakan sehat apabila pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara
bersamaan. Pertumbuhan dan perkembangan tanamandibedakan menjadi tiga yaitu
tahap vegetatif, reproduktif, reproduktif, dan penuaan. Pertumbuhan secara vegetatif
perlu diperhatikan karena pada tahap tersebut tanaman memerlukan perlakuan
khusu untuk bisa melanjutkan kehidupannya.
Pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman dimulai dengan
perkecambahan biji. Perkecambahan berkembang menjadi tanaman kecil yang sempurna,
yang kemudian bibit tersebut tumbuh membesar. Pertumbuhan saat mencapai masa
tertentu, tanaman akan mengalami proses berbunga dan menghasilkan biji.
Perkecambahan tanaman melibatkan proses fisika yaitu biji menyerap air melalui
proses imbibisi akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering.
Perkecambahan dimulai apabila proses imbibisi sudah berjalan secar optimal.
Perkecambahan terjadi jika semua unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman
terpenuhi, yaitu cahaya matahari, suhu yang sesuai, udara yang cukup, dan air
yang cukup. Jika salah satu unsur tersebut tidak dapat terpenuhi dengan baik,
maka dapat dipastikan biji akan tetap dalam keadaan tidur atau mengalami
dormansi.
Perkecambahan biji dibedakan menjadi dua yaitu
perkecambahan hipogeal dan epigeal. Perkecambahan hipogeal adalah apabila
epikotil tanaman memanjang sehingga daun lembaga ikut terangkat ke atas
permukaan tanah, tetapi kotiledon tetap di dalam tanah. Perkecambahan epigeal
adalah apabila hipokotil memanjang sehingga daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah. Tanaman dengan
perkecambahan hipogeal monokotil (jagung) dan hipogeal dikotil (kacang kapri),
sedangkan contoh perkecambahan epigeal monokotil (bawang merah) dan epigeal
dikotil (kedelai).
1.2
Tujuan
Mahasiswa memahami dan mengerti jenis-jenis pertumbuhan
tanaman dan dapat membedakan berdasarkan morfologi dan fungsinya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Biji
merupakan organ reproduksi generatife pada tumbuhan. Biji memiliki struktur
yang terdiri dari tiga bagian pokok yaitu kulit biji, embrio, dan endosperma.
Biji mampu menyerap air pada saat kondisi lembab, sehingga embrio yang ada di
dalamnya akan aktif dan cenderung tumbuh serta berkembang menjadi kecambah
kecil. Perkecambahan tergantung dari persediaan makanan yang terdapat dalam
biji (Aprilia, 2011).
Perkecambahan
biji dibagi dua yaitu, perkecambahan di atas tanah (epigoeis), yaitu jika pada
perkecambahan, karena pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga, daun
lembaganya ke atas, muncul di atas tanah. Perkecambahan di bawah tanah
(hypogeis), jika daun lembaga tetap tinggal di dalam kulit biji, dan tetap di
dalam tanah (Tjitrosoepomo, 2011).
Pertumbuhan
biji untuk melakukan perkecambahan dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu tekstur,
struktur, drainase, kandungan hara, kandungan bahan organik, dan kemampuan
media tanam menyimpan kelembapan tanah sebagai media tanamnya. Biji akan
berkecambah dengan baik apabila unsur tersebut terpenuhi. Biji akan berubah
bentuk dengan munculnya radikula (Faridah dkk., 2012).
Perkecambahan
bagian biji terus mengalami pembelahan samapai menjadi tanaman. Pembelahan
terjadi secara morfogenesis yaitu proses perkembangan bentuk bagian tubuh
embrio. Pertumbuhan biji dimulai dengan kegiatan sel dan enzim-enzim serta
naiknya tingkat respirasi biji. Pertumbuhan dan perkembangan dari biji akan
berubah bentuk yaitu munculnya radikula atau calon akar (Huson et al., 2014).
Tumbuhan
membutuhkan nutrisi atau makanan yang berperan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan. Fungsi nutrisi antaranya adalah sebagai bahan pembangun. Nutrisi
dapat membentuk organ-organ yang memiliki struktur dan fungsi yang berbeda
yaitu terbentuk akar, batang, daun, dan bunga. Nutrisi juga dapat membantu
pertumbuhan karena terjadi perubahan yaitu biji berkecambah hingga menjadi
tumbuh dewasa (Wicaksono dkk., 2014).
Tumbuhan
dalam proses pertumbuhan sangat terpengaruh oleh adanya air yang terdapat dalam
lingkungan yang ditempati. Biji dalam proses menuju perkecambahan sangat
tergantung pada adanya air di lingkungan yaitu biji menyerap air untuk
mengaktifkan enzim-enzim dalam biji. Perkecambahan biji akan tertunda apabila
tidak adanya air dan biji akan mengalami dormansi (Song Ai dkk., 2013).
Kehidupan
tanaman sangat membutuhkan air. Perkecambahan pada biji jika kekurangan air
akan mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman. Proses ini pada sel-sel
tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Pertumbuhan akan mengalami hilangnya
turgiditas dapat menghentikan pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran) yang
akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat (Muis dkk., 2013).
Pertumbuhan
pada tanaman memerlukan cahaya matahari secara langsung namun kondisi tumbuhan
lemah, batang tidak kokoh, daun kecil, dan tanaman tanpak pucat. Faktor atau
penyebab yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tumbuhan, tanaman, dan
perkecambahan. Pertumbuhan pada perkecambahan yang terpengaruhi oleh faktor
tersebut akan mengalami berbelok arah
menghindari sumber cahaya matahari (Kittiwong Wattana et al., 2013).
Pertumbuhan
tanaman memerlukan cahaya untuk fotosintesis. Klorofil terdapat dalam organel
yang disebut kloroplas dimana fotosintesis belangsung. Rangkaian reaksi dibagi
dua yaitu reaksi terang (memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan
cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida (Zarandi et al., 2015)
Pertumbuhan
tanaman dipengaruhi beberapa faktor yaitu suhu atau temperatur lingkungan,
kelembaban atau kelembaban udara, cahaya matahari, dan faktor hormon pada biji.
Pertumbuhan pada biji juga dipengaruhi oleh keberadaan mikroba disekitar
lingkungan hidupnya atau media tanam kecambah tersebut. Pertumbuhan biji akan
sangat baik apabila semua kebutuhan yang diperlukan oleh biji terpenuhi (Saharan
et al., 2011).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum
fisiologi tumbuhan tentang “Jenis-Jenis Pertumbuhan Tanaman” dilaksanakan pada
hari Minggu, 4 Oktober 2015 pukul 06.00 – 07.00 WIB di Laboratorium Fisiologi
Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.
Benih tanaman
bawang merah.
2.
Benih tanaman
jagung.
3.
Benih tanaman
kedelai.
4.
Benih tanaman
kacang kapri.
5.
Media tanam (pasir).
3.2.2 Alat
1.
Bak pengecambah
2.
Beaker glass
3.
Kertas Label
3.3 Cara Kerja
1.
Menyiapkan alat dan
bahan.
2.
Mengisi bak
pengecambah dengan bahan tanam ½ bagian dari tinggi bak pengecambah.
3.
Membuat lajur
secara berurutan dengan ditandai menggunakan kertas label pada setiap jenis
benih dan pengulangannya.
4.
Merendam benih pada
air dalam beaker glass selama 15 menit.
5.
Menanam benih pada
bak pengecambah.
6.
Melakukan perawatan
dan memelihara setiap hari.
7.
Melakukan pengamatan
akhir.
BAB
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1.
Pengamatan Jenis- Jenis Pertumbuhan Tanaman
|
No
|
Jenis Tanaman
|
Ul
|
Gambar
|
H7
|
H14
|
||||
|
Hipokotil
|
Epikotil
|
Kecambah
|
Hipokotil
|
Epikotil
|
Kecambah
|
||||
|
1
|
Bawang
merah
|
1
|
![]() |
-
|
-
|
-
|
4
|
7,5
|
11,5
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
4
|
6,6
|
10,6
|
|||
|
3
|
-
|
-
|
-
|
2
|
7,2
|
9,2
|
|||
|
2
|
Jagung
|
1
|
![]() |
-
|
10,3
|
-
|
2
|
37
|
39
|
|
2
|
-
|
9,3
|
-
|
2
|
35,6
|
37,6
|
|||
|
3
|
-
|
8,5
|
-
|
2
|
35,5
|
37,5
|
|||
|
3
|
Kedelai
|
1
|
![]() |
-
|
-
|
-
|
11,5
|
14
|
25,2
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
8
|
12,5
|
20,5
|
|||
|
3
|
-
|
-
|
-
|
8,2
|
12
|
20,2
|
|||
|
4
|
Alpukat
|
1
|
![]() |
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|||
4.2 Pembahasan
Dari
hasil tabel pengamatan diatas kita dapat melihat laju perkecambahan pada biji
bawang merah, jagung, kedelai, dan alpukat. Biji merupakan organ reproduksi
generatife pada tumbuhan. Biji memiliki struktur yang terdiri dari tiga bagian
pokok yaitu kulit biji, embrio, dan endosperma. Biji mampu menyerap air pada
saat kondisi lembab, sehingga embrio yang ada di dalamnya akan aktif dan
cenderung tumbuh serta berkembang menjadi kecambah kecil. Perkecambahan
tergantung dari persediaan makanan yang terdapat dalam biji (Aprilia, 2011).
Perkecambahan
pada biji terus mengalami pembelahan sampai menjadi tanaman. Pembelahan terjadi
secara morfogenesis yaitu proses perkembangan bentuk bagian tubuh embrio yang
akan aktif apabila sudah mengalami proses imbibisi. Pertumbuhan biji dimulai
dengan kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi biji.
Pertumbuhan dan perkembangan dari biji akan berubah bentuk yaitu munculnya
radikula atau calon akar (Huson et al., 2014)
Pada
tabel pengamatan diatas dari 10 pengulangan tanaman dipilih 3 tananam yang
terbaik. Minggu pertama (H7), yaitu jenis tanaman monokotil epigeal (bawang
merah) tidak mengalami perkecambahan. Jenis tanaman monokotil hypogeal (jagung)
mengalami pertumbuhan yaitu panjang epikoti terbaik 10,3 cm, 9,5 cm, dan 8,5
cm. Jenis tanaman dikotil epigeal (kedelai) tidak menunjukkan perkecambahan.
Jenis tanaman dikotil hypogeal (alpukat) tidak mengalami perkecambahan.
Pada
tabel pengamatan diatas minggu kedua (H14), yaitu jenis tanaman monokotil
epigeal (bawang merah) ulangan satu mempunyai panjang hipokotil 4 cm, panjang
epikotil 7,5 cm, dan panjang kecambah 11,5 cm. Ulangan dua yaitu panjang
hipokotil 4 cm, panjang epikotil 6,6 cm, dan panjang kecambah 10,6 cm. Ulangan
tiga yaitu panjang hipokotil 2 cm, panjang epikotil 7,2 cm, dan panjang
kecambah 9,2 cm Jenis tanaman monokotil hypogeal (jagung) ulangan satu memiliki
panjang hipokotil 2 cm, epikotil 37 cm dan panjang kecambah 39 cm. Ulangan dua
yaitu panjang hipokotil 2 cm, epikotil 35,6 cm, dan panjang kecambah 37,6 cm.
Ulangan tiga yaitu panjang hipokotil 2 cm, epikotil 35,5 cm, dan panjang
kecambah 37,5 cm. Pada jenis tanaman dikotil epigeal (kedelai) ulangan satu
mempunyai panjang hipokotil 11,5 cm, epikotil 14 cm, dan panjang kecambah 25,2
cm. Ulangan dua yaitu panjang hipokotil 8 cm, epikotil 12,5 cm, dan panjang
kecambah 20,5 cm. Ulangan tiga yaitu panjang hipokotil 8,2 cm, panjang epikotil
12 cm, dan panjang kecambah 20,2 cm. Sedangkan pada jenis tanaman dikotil
hypogeal (alpukat) tidak mengalami perkecambahan.
Perkecambahan
tanaman ada dua yaitu perkecambahan di atas tanah (epigoeis), yaitu jika pada
perkecambahan, karena pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga, daun
lembaganya ke atas, muncul di atas tanah. Perkecambahan di bawah tanah (hypogeis),
jika daun lembaga tetap tinggal di dalam kulit biji, dan tetap di dalam tanah
(Tjitrosoepomo, 2011).
Menurut
Aprilia (2011), jenis perkecambahan tanaman dibagi menjadi dua yaitu epigeal
dan hipogeal. Perkecambahan epigeal, pertumbuhan radikula jauh melebihi
pertumbuhan plumula pada tahapan awal sampai suatu struktur lengkung terbentuk
yang mampu menarik keping-keping biji keluar dari kulit sehingga menuju ke atas
tanah. Sedangkan perkecambahan hipogeal, daun muda diselubungi oleh koleoptil
yang menyerupai pelepah memanjang hingga mulai terkena cahaya sehingga
kotiledon berada di bawah permukaan tanah.
Pertumbuhan
pada biji bawang merah, jagung, kedelai, dan alpukat dipengaruhi oleh tiga
faktor lingkungan. Faktor pertama adalah iklim yang meliputi suhu udara,
radiasi sinar matahari, angin, dan kelembaban. Faktor kedua adalah tanah dan
kandungan unsur hara yang terdapat dalam tanah. Faktor ketiga adalah biotik,
seperti hama dan penyakit. Pertumbuhan juga dipengaruhi oleh cahaya matahari
yang merupakan sumbee energi tanaman dan merupakan salah satu unsur iklim yang
berperan penting dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman
(Firmansyah dkk., 2009).
Darwati
dalam Solichatun dkk., (2005), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan tanaman antara lain kesuburan tanah, kondisi iklim, dan
ketersediaan air dalam tanah atau media yang digunakan. Kebutuhan bagi tumbuhan
berbeda-beda, tergantung jenis tumbuhan dan fase pertumbuhannya. Pada proses
pertumbuhan akar tumbuhan tumbuh ke dalam tanah yang lembab dan menarik air
kritis dalam tanah. Air yang dapat diserap dari tanah oleh akar tumbuhan akan
di alirkan ke seluruh bagian tubuh tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan
berkembang.
BAB
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
1. Perkecambahan
dimulai dari proses imbibisi, yaitu proses masuknya air kedalam biji. Proses
ini dibutuhkan untuk melunakkan cangkang biji dan mengaktifkan enzim giberelin.
2. Berdasarkan
letak kotiledonnya perkecambahan dibagi menjadi dua yaitu perkecambahan epigeal
dan perkecambahan hipogeal. Perkecambahan epigeal apabila kotiledon tumbuh dan
menembus ke atas permukaan tanah. Perkecambahan hipogeal jika kotiledon tetap
berada dibawah permukaan tanah.
3. Keberhasilan
pertumbuhan pada kecambah dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal. Jika faktor internal dan eksternal tidak terpenuhi maka pertumbuhan
kecambah tidak maksimal.
5.2
Saran
Praktikum
jenis-jenis pertumbuhan tanaman seharusnya dilakukan dengan pemilihan benih
varietas unggul agar tanaman dapat berkecambah. Pengaturan kebutuhan tanaman
seperti intensitas cahaya, kebutuhan air, suhu, dan kelembaban yang sesuai
seharusnya di perhatikan agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Aprilia, S. 2011. Buku Ajar Interaktif Struktur dan Perkecambahan Biji. Jember. Universitas Jember.
Faridah, E.,
H. Supriyo, M. G.
Wibisono, K. Awati, D. Afiani dan Harfanti. 2012. Akselerasi Pertumbuhan
Cendana (Santalum Album) dengan Aplikasi Unsur Hara Makro pada Esensial Tanah. Ilmu Kehutanan,
4(1) : 1 – 3.
Firmansyah,
F., T. M. Anngo dan A. M. Akyas. 2009. Pengaruh Umur Pindah Tanaman Bibit dan
Populasi Tanaman terhadap Hasil dan Kualitas Sayuran Pakcoy (Brassica campestris Chinensis group)
yang Ditanam dalam Naungan Kasa di Dataran Medium. Agrikultura, 20(3): 216-224.
Huson, T. 2014. Plant Growth and Morphogenesis Under
Different Gravity Conditions Relevance
to Plant Life
in Space. Authomorphogenesis, 4(2) : 205 – 216.
Kittiwong,
W. C. and S. V. Haikij. 2013. Effects of Nutrient
Media on Vegetative Growth of Lemna Minor and Landoltia Punctata During in
Vitro and ex Vitro Cultivation. Science and Technology, 7(01) : 60 – 69.
Muis, A.,
D. Indradewa dan J. Widada. 2013. Pengaruh Inokulasi Mikroza Arbuskula terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai. Vegetalika,
2(2) : 7 – 20.
Solichatun., E. Anggarwulan dan W. Mudyantini. 2005.
Pengaruh Ketersediaan Air terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Bahan Aktif Sapoin
Tanaman Gingseng (Talinum paniculatum
Gaertn.). Biofarmasi, 3(2):
47-51.
Saharan, BS
and V. Nehra. 2011. Plant Growth Promoting Rhizobakteria. Life Science and Medicine
Reseach, 21(01) : 119 – 136.
Song Ai,
N. dan P. Torey. 2013. Karakter
Morfologi Akar Sebagai Indikator Kekurangan Air pada Tumbuhan. Biologi. FMIPA Universitas Sam
Ratulangi Manado, 4(2) : 35 – 36.
Tjitrosoepomo, G. 2011. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Wicaksono, M. I, M. Rahayu, dan Samanhudi. 2014. Pengaruh
Pemberian Mikroza dan Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan Bawang Putih. Ilmu Pertanian, 1109(1) : 35-43.
Zarandi,
M., A. Hejazi, M. G. B. Najjar and N.
Chaparzadeh. 2015. Ligth Intensity Effects on Some Molecular and Biochemical
Characteristic of Dunaliella Salina.
Plant physiology, 5(2) : 1311– 1321.




Hotels near Casino - Mapyro
BalasHapusHotels near Casino. Filter 김제 출장샵 by: Best Hotels Close to Casino. Filter 광주 출장안마 by: Largest Casinos in San Francisco, 서울특별 출장샵 CA. Hotels. Hotels 1 - 12 of 천안 출장안마 61 — Search by: 용인 출장마사지 Best Hotels