Selasa, 13 September 2016

Pengenalan Tanaman Penting Dataran Rendah

Pengenalan Tanaman Penting Dataran Rendah


LAPORAN PRAKTIKUM

Oleh :
Kelompok  1/A
1.      Miftahul Ulum                             (151510501085)
2.       Asmuni                                         (091510501083)
3.      Rohikim Mahtum                          (111510601099)
4.      Zulfa Nuril H                                (151510501001)
5.      Winda Dwi L                                (151510501002)
6.      Indah Sri Wulandari                     (151510501081)
7.      Izzul Lubaba                                 (151510501114)
8.      Tic Tic Meilinda                            (151510501120)
9.      Toriq Nurul I                                 (151510501301)



PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dataran di wilayah indonesia dikelompokkan menjadi tiga dataran yaitu dataran rendah, dataran menengah, dan dataran tinggi. Pengelompokan tersebut berhubungan dengan kebutuhan masing-masing jenis tanaman budidaya terhadap suhu. Tanaman pada daerah tertentu tidak mampu hidup karena keadaan habitat yang tidak cocok untuk  kelangsungan hidup tanaman. Petani di Indonesia banyak yang tidak mengerti tentang variabilitas iklim yang sering kerap terjadi, sangat nyata pengaruhnya pada produksi tanaman dataran rendah. Variabilitas iklim di satu sisi dapat menjadi potensi namun di sisi lain dapat menjadi ancaman bagi  tanaman dataran rendah (Apriyana dan Kailaku, 2015).
Habitat tanaman tergantung pada topografi atau ketinggian tempat yang akan mempengaruhi iklim mikro, suhu, intensitas cahaya, kondisi solum tanah, dan lainnya. Topografi juga akan berpengaruh terhadap jenis tanaman yang hidup pada suatu daerah, taksonomi tanaman, anatomi, serta morfologi tanaman. Daerah tropis seperti Indonesia secara umum tidak semua iklim dan cuaca berpengaruh kuat terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman dapat di maksimalkan dengan perlakuan yang sesuai dengan habitat tanaman budidaya (Hidayat, 2011).
Pengelompokan tanaman dibedakan berdasarkan daerah iklim menjadi empat macam yaitu daerah tropis, daerah sedang, daerah sejuk dan daerah dingin. Daerah panas atau tropis seperti Indonesia yang berada pada ketinggian 0-600 m dari permukaan laut, tanaman yang sering dibudidayakan oleh petani yaitu padi, jagung, kopi, tembakau, dan coklat. Daerah tropis yang memiliki suhu antara 22ºC – 26,3ºC. Sedangkan daerah sedang berada pada ketinggian 600-1500 m di atas permukaan laut, suhu pada daerah tersebut berkisar 17,1ºC- 22ºC. Tanaman komoditas yang biasa di budidayakan pada daerah tersebut yaitu tembakau, teh, kopi, dan kina.
Suhu di daerah sejuk berkisar 11,1ºC-17,1ºC, daerah ini berada pada ketinggian 1500-2500 m dari permukaan laut dengan komoditas tanaman yaitu kopi, teh, kina, dan sayuran. Wilayah Indonesia juga memiliki daerah dingin dengan ketinggian 2500 m dari permukaan laut. Suhu di daerah dingin ini berkisar antara 6,2ºC-11,1ºC dan pada daerah itu tidak komoditas tanaman yang dapat dibudidayakan karena daerah tersebut intensitas cahaya kurang serta suhunya yang terlalu dingin.
Kondisi lingkungan yang sesuai dengan habitatnya, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan maksimal. Kondisi lingkungan yang sesuia akan membantu tanaman untuk berbunga dan dapat menghasilkan bibit tanaman yang baik. Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui dan menentukan tanaman yang cocok untuk dibudidayakan pada topografi tertentu. Mengetahui lebih dalam mengenai daerah yang sesuai untuk tanaman dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa memahami dan mengerti tentang tanaman penting daerah dataran rendah.
2. Mahasiswa memahami dan mengerti tentang morfologi dan taksonomi pada tanaman dataran rendah.













BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Sunarjono (2013), ketinggian tempat dibagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah dengan ketinggian berkisar 0-400 m dari permukaan laut dan dataran menengah dengan ketinggian 400-800 m dari permukaan laut, dataran tinggi atau bukit yang mempunyai ketinggian berkisar 800-1.200 m dari permukaan laut, dan dataran pegunungan yang memiliki ketinggian lebih dari 1.200 m dari permukaan laut. Dataran rendah mempunyai suhu sekitar 25ºC-35ºC, dataran berbukit 18ºC-21ºC m dari permukaan laut, dan setiap kenaikan tinggi tempat 100 m dari permukaan laut maka suhu turun sebesar 0,56ºC. Dataran rendah dapat dibudidayakan tanaman buah yaitu anggur, manggis, sawo, mundu, durian, nangka, jambi biji, sirsak dan tanaman lainnya.
Ekosistem di alam ini memiliki pola penyesuaian untuk mempertahankan stabilitas yaitu dengan mengalami suatu perubahan. Komonitas tumbuhan merupakan salah satu komonitas yang mudah untuk berubah untuk mencapai kestabilan. Kestabilan tatanan komonitas tumbuhan tentu saja akan menambah keberagaman dalam ekosistem dan menjaga suksesi tumbuhan akan membantu menyeimbangkan iklim (Raney et al., 2013).
Iklim diklarifikasikan ke dalam tingkat yang berbeda yaitu iklim makro yang meliputi wilayah yang sangat luas berupa benua dan lautan. Iklim mikro yang meliputi daerah yang luas dengan kondisi cukup seragam yang di pengaruhi massa udara ke atas permukaan bumi dalam parameter yang menjadi daerah lokal dengan skala goegrafis antara 1m2-100m2. Faktor yang mempengaruhi iklim mikro meliputi suhu permukaan, kelembaban relatif, kecepatan angin, radiasi matahari dan curah hujan (Obi, 2014).
Tanaman yang mempunyai habitat di daerah dataran rendah mempunyai kelemahan yaitu karena pergeseran musim dan curah hujan tinggi. Gejala topografi tersebut dapat berdampak terhadap tanaman budidaya di dataran rendah. Cekaman abiotik menjadi faktor produksi tanaman yang disebabkan kemarau panjang dan suhu tinggi (Wahyu dkk., 2013).

Tanaman budidaya dapat tumbuh subur pada dataran rendah yang mempunyai ketinggian 700 m dari permukaan laut. Tanaman yang tumbuh pada dataran tersebut biasanya tanaman pangan karena pada daerah tersebut merupakan habitat komoditas tanaman pangan. Suhu pada daerah tesebut optimum untuk pertumbuhan tanaman yaitu 27ºC-33ºC, sedangkan curah hujan 369 mm/bulan sampai 800mm/bulan. Kebutuhan tanaman pada daerah yaitu cahaya matahari yang cukup bagi pertumbuhan tanaman (Barus dkk., 2013).
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh tiga faktor lingkungan utama. Faktor pertama adalah iklim yang meliputi suhu udara, radiasi sinar matahari, angin dan kelembaban. Faktor kedua adalah tanah dan kandungan unsur hara yang ada pada tanah. Faktor ketiga adalah biotik yang meliputi gulma, hama dan penyakit tanaman. Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi tanaman dan merupakan salah satu unsur iklim yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Kusuma dkk., 2013).

















BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pengantar Ilmu Tanaman tentang“Pengenalan Tanaman Penting Dataran Rendah” dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Oktober 2015 pukul 06.30 – 08.30 WIB. Lokasi pengamatan di UPT Agrotecnopark Jubung Kabupaten Jember.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Tanaman yang diamati
3.2.2 Alat
1.    Alat tulis
2.    Tabel pengamatan

3.3 Cara Kerja
1.  Menyiapkan alat dan bahan.
2.  Menetapkan objek tanaman yang diamati.
3.  Melakukan wawancara pada petani
4.  Mengisi tabel pengamatan.











BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tanaman Dataran Rendah
No
Jenis tanaman
Gambar
Keterangan
1
Kedelai
IMG-20151026-WA0002.jpg

1.    Ciri-ciri morfologi
·   Akar : tunggang, akar cabang menyamping.
·   Batang : tinggi 30-100 cm, 3-6 cabang.
·   Daun : bercabang 3.
·   Bunga : bunga terletak setiap ruas batang warna ungu atau putih.
·   Buah/polong : 50 polong dalam satu pohon.
·   Biji : dikotil, warna kuning, hijau, dan coklat.
2
Kemuning
IMG-20151025-WA0001.jpg

2.    Ciri-ciri morfologi
·   Akar : tunggang, kuning keputihan
·   Batang : batang keras, beralur, warna coklat.
·   Daun : majemuk, permukaan licin, bentuk corong.
·   Bunga : kelopak 2-25 cm, benangsari berbentuk jarum.
·   Buah : warna merah, lonjong
·   Biji : keras, lonjong, warna coklat
3
Iler
IMG-20151025-WA0017.jpg

3.    Ciri-ciri morfologi
·  Akar : akar serabut
·  Batang : tegak, tinggi sekitar 24-150 cm
·  Daun : bentuk hati, warna ungu,permukaan daun kasar dan lebar ± 4 cm.
·  Bunga : bunga tersusun, muncul pada setiap pucuk, bentuk untaian.
·  Buah : -
·  Biji : -
4.2 Pembahasan
Kedelai (Glycine max. (L.) merrill) merupakan tanaman yang mampu hidup didataran rendah yang berasal Asia sub-tropik. Kedelai termasuk kelompok tanaman pangan, berdasarkan umurnya yaitu termasuk tanaman semusim karena hanya dapat berproduksi satu kali dalam masa tanam. Berdasarkan keping bijinya kedelai termasuk pada golongan dikotil atau biji berkeping dua. Berdasarkan tipe perkecambahannya kedelai termasuk epigeal, berdasarkan fotosintesis termasuk C3 dan berdasarkan struktur batangnya kedelai termasuk batang kalus.
Morfologi tanaman kedelai yaitu mempunyai akar tunggang dimana akar cabang tumbuh menyamping. Kedelai memiliki tinggi batang sekitar 30-100 cm dan mempunyai 3-6 cabang. Daun kedelai setiap cabang dari batang memiliki 3 lembar daun. Bunga kedelai ada yang berwarna putih atau ungu. Buah atau polong kedelai setiap satu pohon kedelai dapat reproduksi hingga 50 polong kacang kedelai. Biji kacang kedelai termasuk dikotil karena berkeping dua, terbungkus kulit biji yang cukup keras, warna polong kedelai kuning dan ada yang berwarna kuning kecoklatan.
Tanaman kedelai yang dipanen adalah diambil dengan batangnya dan diolah menjadi tempe, kecap dan tahu. Pada tanaman kedelai cara perbanyakan yaitu dengan cara generatif yaitu  bertemunya putik dan benangsari sehingga terjadi penyerbukan pada bunga kedelai. Pengolahan tanah pada daerah tersebut yaitu dengan menggunakan mesin traktor, cara penanaman benih kedelai dengan disebar tidak teratur. Pemeliharaan pada tanaman kedelai yaitu pemupukan dengan NPK dan TSP 2 kw/Ha, irigasi menggunakan air sungai dan pompa air, pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida jenis insektisida, dan pengendalian gulma pada lahan tersebut hanya dibiarkan saja atau tanaman gulma tidak dicabut.
Pemanenan pada tanaman kedelai memiliki ciri-ciri daun telah menguning, umur panen kedelai yaitu 80 hari setelah masa tanam dan cara panen tanaman kedelai menggunakan sabit dengan cara memotong batangnya. Penanganan pasca panen terdapat beberapa tahapan yaitu pengeringan dilakukan dengan menjemur biji yang telah di panen selama 3 hari, pembersihan dilakukan dengan menggunakan mesin perontok. Pengemasan polong kedelai yang telah dibersihkan menggunakan karung dimana setiap karung memiliki berat 50 kg, setiap 1 Ha lahan dapat menghasilkan12-16 kw polong kedelai. Pengolahan limbah yaitu dibakar dan untuk pakan ternak dan kehilangan panen setiap satu hektar hanya 1-2 kg. Pemasaran polong kedelai masih pasar domestik, tataniaga pemasaran dari produsen langsung di jual ke pengepul serta harga kedelai 1 kilogram Rp, 6000,00 dan 1 ton Rp, 6000.000,00/ Ha.
Kemuning (Murraya paniculata) merupakan tanaman yang mempunyai habitat daerah dataran rendah dan banyak tersebar di daerah Asia. Kemuning termasuk kelompok tanaman obat, berdasarkan umurnya termasuk tanaman semusim, berdasarkan keping bijinya termasuk dikotil, tipe perkecambahan epigeal, dan berdasarkan struktur batangnya kemuning termasuk berkayu. Habitat tanaman kemuning yaitu pada daerah lembab, tepi hutan, dan semak-semak belukar.
Morfologi tanaman kemuning yaitu jenis akar tunggang, warna akar kuning keputihan yang dapat menembus tanah hingga kedalaman 50 cm. Batang tanaman kemuning berkayu keras, beralur, dan berwarna coklat. Daun kemuning majemuk, permukaan daun licin, dan bentuk daunnya bentuk corong. Bunga tanaman kemuning mempunyai  kelopak yang berukuran 2-25 cm, dan benang sari berbentuk jarum. Buah kemuning berbetuk lonjong dan mempunyai ukuran berkisar 1,5 cm -1,1 cm, sedangkan biji tanaman kemuning memiliki tekstur yang sangat keras, bijinya lonjong dan berwarna coklat.
Tanaman kemuning bagian yang dipanen adalah pada bagian daun. Bentuk olahan dipasar kemuning banyak dijadikan obat herbal dan lainnya. Pada tanaman kemuning cara perbanyakan yaitu dengan cara stek batang, pembibitan dengan menggunakan polybag, cara pengolahan tanah dicangkul, cara penanaman dengan cara pindah tanam dari polybag ke tanah. Sistem penanaman pada tanaman kemuning yaitu monokultur sedangkan cara pemeliharaan menggunakan pupuk Urea 2 kali dalam 1 bulan, pengairan dengan mesin diesel dan springkel, pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida jenis insektisida, sedangkan tanaman gulma dicabut secara manual.
Pemanenan daun kemuning memiliki ciri-ciri daun sudah mulai layu, umur panen tanaman jika daun tanaman kemuning sudah tampak layu maka daun pun siap dipetik. Penanganan pasca panen daun kemuning kemudian diambil oleh pihak farmasi. Penanganan mulai dari pengeringan, pembersihan, sortasi, pengemasan, penyimpanan hingga menjadi produk lain dan pemasarannya semua proses dikelola oleh pihak farmasi.
Iler (Coleus sclutellaiodes)  merupakan tanaman yang hidup di daerah dataran rendah. Jenis tanaman iler berhabitat pada daerah tropis yang cocok untuk pertumbuhan tanaman tersebut. Iler termasuk kelompok tanaman obat, berdasarkan umurnya tanaman iler termasuk tanaman semusim. Berdasarkan keping biji tanaman iler termasuk dikotil dan perkecambahannya epigeal. Sedangkan struktur batang tanaman iler yaitu sukulen. Bagian yang di pada tanaman iler hanya diambil daunnya saja, bentuk olahan yang tersedia dipasar yaitu obat herbal. Cara perbanyakan tanaman iler menggunakan metode stek batang dan cara pembibitannya sendiri petani masih mendatangkan bibit tanaman iler dari Malang. Penanaman bibit tanaman iler yaitu dengan cara pindah tanam dari polybag langsung ditanam ke tanah, sistem penanamannya termasuk monokultur atau tunggal.
Pemeliharaan tanaman iler yaitu pemupukan dilakukan selama satu bulan dua kali menggunakan pupuk urea. Pemberian air pada tanaman dilakukan sebanyak satu bulan tiga kali siram. Pengendalian hama pada tanaman iler tidak dilakukan karena hama dan penyakit sangat jarang terjadi pada tanaman iler tersebut. Pengendalian gulma atau tanaman yang tumbuh disekitar tanaman iler hanya dilakukan dengan cara mencabut tanaman tersebut secara manual.
Pemanenan daun iler tidak memiliki ciri-ciri spesifik yang tanpak pada tanaman, umur panen tanaman iler tidak tentu karena hanya diambil sesuai kebutuhan. Penanganan pasca panen tanaman iler kemudian diambil oleh pihak farmasi. Penanganan mulai dari pengeringan, pembersihan, sortasi, pengemasan, penyimpanan hingga menjadi produk siap pakai dan pemasarannya semua proses dikelola oleh pihak farmasi.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Tanaman kedelai merupakan tanaman yang berhabitat di daerah dataran rendah yang berasal dari daerah Asia sub-tropik. Kedelai termasuk kelompok tanaman pangan yang hanya dapat di panen satu kali dari masa tanam. Pengendalian hama dan penyakit petani banyak menggunakan Pestisida kimia. Tanaman kemuning merupakan tanaman yang berhabitat di daerah dataran rendah. Kemuning termasuk kelompok tanaman obat sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan obat. Penggunaan pupuk dengan urea yang masih tergolong sangat sederhana. Tanaman Iler merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di dataran rendah dan juga termasuk tanaman obat. Sehingga tanaman iler banyak di manfaatkan sebagai bahan baku pembuatan obat. Pengendalian hama dan penyakit petani banyak menggunakan pestisida kimia.

5.2 Saran
            Seharusnya penanganan hama dan penyakit tanaman kedelai, kemuning, dan iler tidak menggunakan pestisida. Penggunaan pestisida yang berlebihan justru akan merusak tanah dan organisme yang bermanfaat bagi tanaman itu sendiri.











DAFTAR PUSTAKA

Apriyana, Y. Dan T. E. Kailaku. 2015. Variabilitas iklim dan dinamika waktu tanam padi di wilayah pola hujan monsunal dan equatorial. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon, 1(2): 366-372.

Barus, M., R. Rogomulyo dan S. Trisnowati. 2013. Pengaruh Takaran Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wijen (Sesamum Indicum L.) Di Lahan Pasir Pantai. Vegetalika, 2(4): 45-54.

Hidayat, T. 2011. Analisis Perubahan Musim dan Penyusunan Pola tanam Tanaman Padi Berdasarkan Data Curah Hujan di Kabupaten Aceh Besar. Agrists, 15(3): 87-93.

Kusuma, A., E. H. Kardhinata dan M. K. Bangun. 2013. Adaptasi Beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Pada Dataran Rendah Dengan Pemberian Pupuk Kandang Dan Npk. Agroteknologi, 1(4): 909-918.

Obi, N. I. 2014. The Influence of Vegetation on Microclimate in Hot Humd Tropical Environment-A Case of Enugu Urban. Energy and Environmental Research, 2(2): 28-38.

Raney, P. A., J. D. Fridley and D. J. Leopold. 2013. Characterizing Microclimate and Plant Community Variation in Wetlands. Wedlands, 2(13): 1-7.

Sunarjono, H. 2013. Berkebun 26 Jenis Tanaman Buah. Jakarta. Penebar Swadaya.

Wahyu, Y., A. P. Samosir dan S. G. Budiarti. 2013. Adaptasi Genotipe Gandum Introduksi di Dataran Rendah. Agrohorti, 1(1): 1-6.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar