
Pengenalan Tanaman
Penting Dataran Rendah
LAPORAN PRAKTIKUM
Oleh :
Kelompok 1/A
1.
Miftahul Ulum (151510501085)
2.
Asmuni (091510501083)
3.
Rohikim
Mahtum (111510601099)
4.
Zulfa Nuril H
(151510501001)
5.
Winda Dwi L (151510501002)
6.
Indah Sri
Wulandari (151510501081)
7.
Izzul Lubaba (151510501114)
8.
Tic Tic
Meilinda (151510501120)
9.
Toriq Nurul I (151510501301)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dataran
di wilayah indonesia dikelompokkan menjadi tiga dataran yaitu dataran rendah,
dataran menengah, dan dataran tinggi. Pengelompokan tersebut berhubungan dengan
kebutuhan masing-masing jenis tanaman budidaya terhadap suhu. Tanaman pada
daerah tertentu tidak mampu hidup karena keadaan habitat yang tidak cocok
untuk kelangsungan hidup tanaman. Petani
di Indonesia banyak yang tidak mengerti tentang variabilitas iklim yang sering
kerap terjadi, sangat nyata pengaruhnya pada produksi tanaman dataran rendah.
Variabilitas iklim di satu sisi dapat menjadi potensi namun di sisi lain dapat
menjadi ancaman bagi tanaman dataran
rendah (Apriyana dan Kailaku, 2015).
Habitat
tanaman tergantung pada topografi atau ketinggian tempat yang akan mempengaruhi
iklim mikro, suhu, intensitas cahaya, kondisi solum tanah, dan lainnya. Topografi
juga akan berpengaruh terhadap jenis tanaman yang hidup pada suatu daerah,
taksonomi tanaman, anatomi, serta morfologi tanaman. Daerah tropis seperti
Indonesia secara umum tidak semua iklim dan cuaca berpengaruh kuat terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman dapat di maksimalkan
dengan perlakuan yang sesuai dengan habitat tanaman budidaya (Hidayat, 2011).
Pengelompokan
tanaman dibedakan berdasarkan daerah iklim menjadi empat macam yaitu daerah
tropis, daerah sedang, daerah sejuk dan daerah dingin. Daerah panas atau tropis
seperti Indonesia yang berada pada ketinggian 0-600 m dari permukaan laut,
tanaman yang sering dibudidayakan oleh petani yaitu padi, jagung, kopi,
tembakau, dan coklat. Daerah tropis yang memiliki suhu antara 22ºC – 26,3ºC. Sedangkan daerah
sedang berada pada ketinggian 600-1500 m di atas permukaan laut, suhu pada
daerah tersebut berkisar 17,1ºC- 22ºC. Tanaman komoditas yang biasa di
budidayakan pada daerah tersebut yaitu tembakau, teh, kopi, dan kina.
Suhu
di daerah sejuk berkisar 11,1ºC-17,1ºC, daerah ini berada pada ketinggian
1500-2500 m dari permukaan laut dengan komoditas tanaman yaitu kopi, teh, kina,
dan sayuran. Wilayah Indonesia juga memiliki daerah dingin dengan ketinggian
2500 m dari permukaan laut. Suhu di daerah dingin ini berkisar antara
6,2ºC-11,1ºC dan pada daerah itu tidak komoditas tanaman yang dapat
dibudidayakan karena daerah tersebut intensitas cahaya kurang serta suhunya
yang terlalu dingin.
Kondisi
lingkungan yang sesuai dengan habitatnya, tanaman akan tumbuh dan berkembang
dengan maksimal. Kondisi lingkungan yang sesuia akan membantu tanaman untuk
berbunga dan dapat menghasilkan bibit tanaman yang baik. Praktikum ini
dilakukan untuk mengetahui dan menentukan tanaman yang cocok untuk
dibudidayakan pada topografi tertentu. Mengetahui lebih dalam mengenai daerah
yang sesuai untuk tanaman dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada
tanaman.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa
memahami dan mengerti tentang tanaman penting daerah dataran rendah.
2.
Mahasiswa memahami dan mengerti tentang morfologi dan taksonomi pada tanaman
dataran rendah.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Sunarjono (2013), ketinggian tempat
dibagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah dengan ketinggian berkisar
0-400 m dari permukaan laut dan dataran menengah dengan ketinggian 400-800 m
dari permukaan laut, dataran tinggi atau bukit yang mempunyai ketinggian
berkisar 800-1.200 m dari permukaan laut, dan dataran pegunungan yang memiliki
ketinggian lebih dari 1.200 m dari permukaan laut. Dataran rendah mempunyai
suhu sekitar 25ºC-35ºC,
dataran berbukit 18ºC-21ºC m dari permukaan laut, dan setiap kenaikan tinggi
tempat 100 m dari permukaan laut maka suhu turun sebesar 0,56ºC. Dataran rendah dapat dibudidayakan tanaman buah yaitu
anggur, manggis, sawo, mundu, durian, nangka, jambi biji, sirsak dan tanaman
lainnya.
Ekosistem di alam ini memiliki pola
penyesuaian untuk mempertahankan stabilitas yaitu dengan mengalami suatu perubahan.
Komonitas tumbuhan merupakan salah satu komonitas yang mudah untuk berubah
untuk mencapai kestabilan. Kestabilan tatanan komonitas tumbuhan tentu saja
akan menambah keberagaman dalam ekosistem dan menjaga suksesi tumbuhan akan
membantu menyeimbangkan iklim (Raney et
al., 2013).
Iklim diklarifikasikan ke dalam tingkat yang
berbeda yaitu iklim makro yang meliputi wilayah yang sangat luas berupa benua
dan lautan. Iklim mikro yang meliputi daerah yang luas dengan kondisi cukup
seragam yang di pengaruhi massa udara ke atas permukaan bumi dalam parameter
yang menjadi daerah lokal dengan skala goegrafis antara 1m2-100m2. Faktor yang
mempengaruhi iklim mikro meliputi suhu permukaan, kelembaban relatif, kecepatan
angin, radiasi matahari dan curah hujan (Obi, 2014).
Tanaman yang mempunyai habitat di daerah
dataran rendah mempunyai kelemahan yaitu karena pergeseran musim dan curah
hujan tinggi. Gejala topografi tersebut dapat berdampak terhadap tanaman
budidaya di dataran rendah. Cekaman abiotik menjadi faktor produksi tanaman
yang disebabkan kemarau panjang dan suhu tinggi (Wahyu dkk., 2013).
Tanaman budidaya dapat tumbuh subur pada
dataran rendah yang mempunyai ketinggian 700 m dari permukaan laut. Tanaman
yang tumbuh pada dataran tersebut biasanya tanaman pangan karena pada daerah
tersebut merupakan habitat komoditas tanaman pangan. Suhu pada daerah tesebut
optimum untuk pertumbuhan tanaman yaitu 27ºC-33ºC, sedangkan curah hujan 369 mm/bulan sampai 800mm/bulan.
Kebutuhan tanaman pada daerah yaitu cahaya matahari yang cukup bagi pertumbuhan
tanaman (Barus dkk., 2013).
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh tiga
faktor lingkungan utama. Faktor pertama adalah iklim yang meliputi suhu udara,
radiasi sinar matahari, angin dan kelembaban. Faktor kedua adalah tanah dan
kandungan unsur hara yang ada pada tanah. Faktor ketiga adalah biotik yang
meliputi gulma, hama dan penyakit tanaman. Cahaya matahari merupakan sumber
energi utama bagi tanaman dan merupakan salah satu unsur iklim yang memegang
peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Kusuma dkk., 2013).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum
Pengantar Ilmu Tanaman tentang“Pengenalan Tanaman Penting Dataran Rendah”
dilaksanakan pada hari Minggu, 25 Oktober 2015 pukul 06.30 – 08.30 WIB. Lokasi pengamatan
di UPT Agrotecnopark Jubung Kabupaten Jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Tanaman yang
diamati
3.2.2 Alat
1.
Alat tulis
2.
Tabel pengamatan
3.3 Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Menetapkan objek tanaman yang diamati.
3. Melakukan wawancara pada petani
4. Mengisi tabel pengamatan.
BAB 4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tanaman Dataran
Rendah
|
No
|
Jenis tanaman
|
Gambar
|
Keterangan
|
|||
|
1
|
Kedelai
|
|
1. Ciri-ciri morfologi
·
Akar : tunggang, akar cabang menyamping.
·
Batang : tinggi 30-100 cm, 3-6 cabang.
·
Daun : bercabang 3.
·
Bunga : bunga terletak setiap ruas batang warna
ungu atau putih.
·
Buah/polong : 50 polong dalam satu pohon.
·
Biji : dikotil, warna kuning, hijau, dan coklat.
|
|||
|
2
|
Kemuning
|
|
2. Ciri-ciri morfologi
·
Akar : tunggang, kuning keputihan
·
Batang : batang keras, beralur, warna coklat.
·
Daun : majemuk, permukaan licin, bentuk corong.
·
Bunga : kelopak 2-25 cm, benangsari berbentuk
jarum.
·
Buah : warna merah, lonjong
·
Biji : keras, lonjong, warna coklat
|
|||
|
3
|
Iler
|
|
3. Ciri-ciri morfologi
· Akar : akar serabut
· Batang : tegak, tinggi
sekitar 24-150 cm
· Daun : bentuk hati,
warna ungu,permukaan daun kasar dan lebar ± 4 cm.
· Bunga : bunga tersusun,
muncul pada setiap pucuk, bentuk untaian.
· Buah : -
· Biji : -
|
4.2 Pembahasan
Kedelai
(Glycine max. (L.) merrill) merupakan
tanaman yang mampu hidup didataran rendah yang berasal Asia sub-tropik. Kedelai
termasuk kelompok tanaman pangan, berdasarkan umurnya yaitu termasuk tanaman
semusim karena hanya dapat berproduksi satu kali dalam masa tanam. Berdasarkan
keping bijinya kedelai termasuk pada golongan dikotil atau biji berkeping dua.
Berdasarkan tipe perkecambahannya kedelai termasuk epigeal, berdasarkan
fotosintesis termasuk C3 dan berdasarkan struktur batangnya kedelai termasuk
batang kalus.
Morfologi
tanaman kedelai yaitu mempunyai akar tunggang dimana akar cabang tumbuh
menyamping. Kedelai memiliki tinggi batang sekitar 30-100 cm dan mempunyai 3-6
cabang. Daun kedelai setiap cabang dari batang memiliki 3 lembar daun. Bunga
kedelai ada yang berwarna putih atau ungu. Buah atau polong kedelai setiap satu
pohon kedelai dapat reproduksi hingga 50 polong kacang kedelai. Biji kacang
kedelai termasuk dikotil karena berkeping dua, terbungkus kulit biji yang cukup
keras, warna polong kedelai kuning dan ada yang berwarna kuning kecoklatan.
Tanaman
kedelai yang dipanen adalah diambil dengan batangnya dan diolah menjadi tempe,
kecap dan tahu. Pada tanaman kedelai cara perbanyakan yaitu dengan cara
generatif yaitu bertemunya putik dan
benangsari sehingga terjadi penyerbukan pada bunga kedelai. Pengolahan tanah
pada daerah tersebut yaitu dengan menggunakan mesin traktor, cara penanaman
benih kedelai dengan disebar tidak teratur. Pemeliharaan pada tanaman kedelai
yaitu pemupukan dengan NPK dan TSP 2 kw/Ha, irigasi menggunakan air sungai dan
pompa air, pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida jenis
insektisida, dan pengendalian gulma pada lahan tersebut hanya dibiarkan saja
atau tanaman gulma tidak dicabut.
Pemanenan
pada tanaman kedelai memiliki ciri-ciri daun telah menguning, umur panen
kedelai yaitu 80 hari setelah masa tanam dan cara panen tanaman kedelai
menggunakan sabit dengan cara memotong batangnya. Penanganan pasca panen
terdapat beberapa tahapan yaitu pengeringan dilakukan dengan menjemur biji yang
telah di panen selama 3 hari, pembersihan dilakukan dengan menggunakan mesin
perontok. Pengemasan polong kedelai yang telah dibersihkan menggunakan karung
dimana setiap karung memiliki berat 50 kg, setiap 1 Ha lahan dapat
menghasilkan12-16 kw polong kedelai. Pengolahan limbah yaitu dibakar dan untuk
pakan ternak dan kehilangan panen setiap satu hektar hanya 1-2 kg. Pemasaran
polong kedelai masih pasar domestik, tataniaga pemasaran dari produsen langsung
di jual ke pengepul serta harga kedelai 1 kilogram Rp, 6000,00 dan 1 ton Rp,
6000.000,00/ Ha.
Kemuning
(Murraya paniculata) merupakan
tanaman yang mempunyai habitat daerah dataran rendah dan banyak tersebar di
daerah Asia. Kemuning termasuk kelompok tanaman obat, berdasarkan umurnya
termasuk tanaman semusim, berdasarkan keping bijinya termasuk dikotil, tipe
perkecambahan epigeal, dan berdasarkan struktur batangnya kemuning termasuk
berkayu. Habitat tanaman kemuning yaitu pada daerah lembab, tepi hutan, dan
semak-semak belukar.
Morfologi
tanaman kemuning yaitu jenis akar tunggang, warna akar kuning keputihan yang
dapat menembus tanah hingga kedalaman 50 cm. Batang tanaman kemuning berkayu
keras, beralur, dan berwarna coklat. Daun kemuning majemuk, permukaan daun
licin, dan bentuk daunnya bentuk corong. Bunga tanaman kemuning mempunyai kelopak yang berukuran 2-25 cm, dan benang
sari berbentuk jarum. Buah kemuning berbetuk lonjong dan mempunyai ukuran
berkisar 1,5 cm -1,1 cm, sedangkan biji tanaman kemuning memiliki tekstur yang
sangat keras, bijinya lonjong dan berwarna coklat.
Tanaman
kemuning bagian yang dipanen adalah pada bagian daun. Bentuk olahan dipasar
kemuning banyak dijadikan obat herbal dan lainnya. Pada tanaman kemuning cara
perbanyakan yaitu dengan cara stek batang, pembibitan dengan menggunakan
polybag, cara pengolahan tanah dicangkul, cara penanaman dengan cara pindah
tanam dari polybag ke tanah. Sistem penanaman pada tanaman kemuning yaitu
monokultur sedangkan cara pemeliharaan menggunakan pupuk Urea 2 kali dalam 1
bulan, pengairan dengan mesin diesel dan springkel, pengendalian hama dan
penyakit menggunakan pestisida jenis insektisida, sedangkan tanaman gulma
dicabut secara manual.
Pemanenan
daun kemuning memiliki ciri-ciri daun sudah mulai layu, umur panen tanaman jika
daun tanaman kemuning sudah tampak layu maka daun pun siap dipetik. Penanganan
pasca panen daun kemuning kemudian diambil oleh pihak farmasi. Penanganan mulai
dari pengeringan, pembersihan, sortasi, pengemasan, penyimpanan hingga menjadi
produk lain dan pemasarannya semua proses dikelola oleh pihak farmasi.
Iler (Coleus sclutellaiodes) merupakan tanaman yang hidup di daerah
dataran rendah. Jenis tanaman iler berhabitat pada daerah tropis yang cocok
untuk pertumbuhan tanaman tersebut. Iler termasuk kelompok tanaman obat,
berdasarkan umurnya tanaman iler termasuk tanaman semusim. Berdasarkan keping
biji tanaman iler termasuk dikotil dan perkecambahannya epigeal. Sedangkan
struktur batang tanaman iler yaitu sukulen. Bagian yang di pada tanaman iler
hanya diambil daunnya saja, bentuk olahan yang tersedia dipasar yaitu obat
herbal. Cara perbanyakan tanaman iler menggunakan metode stek batang dan cara
pembibitannya sendiri petani masih mendatangkan bibit tanaman iler dari Malang.
Penanaman bibit tanaman iler yaitu dengan cara pindah tanam dari polybag
langsung ditanam ke tanah, sistem penanamannya termasuk monokultur atau
tunggal.
Pemeliharaan
tanaman iler yaitu pemupukan dilakukan selama satu bulan dua kali menggunakan
pupuk urea. Pemberian air pada tanaman dilakukan sebanyak satu bulan tiga kali
siram. Pengendalian hama pada tanaman iler tidak dilakukan karena hama dan
penyakit sangat jarang terjadi pada tanaman iler tersebut. Pengendalian gulma
atau tanaman yang tumbuh disekitar tanaman iler hanya dilakukan dengan cara
mencabut tanaman tersebut secara manual.
Pemanenan
daun iler tidak memiliki ciri-ciri spesifik yang tanpak pada tanaman, umur
panen tanaman iler tidak tentu karena hanya diambil sesuai kebutuhan.
Penanganan pasca panen tanaman iler kemudian diambil oleh pihak farmasi.
Penanganan mulai dari pengeringan, pembersihan, sortasi, pengemasan,
penyimpanan hingga menjadi produk siap pakai dan pemasarannya semua proses
dikelola oleh pihak farmasi.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Tanaman
kedelai merupakan tanaman yang berhabitat di daerah dataran rendah yang berasal
dari daerah Asia sub-tropik. Kedelai termasuk kelompok tanaman pangan yang
hanya dapat di panen satu kali dari masa tanam. Pengendalian hama dan penyakit
petani banyak menggunakan Pestisida kimia. Tanaman kemuning merupakan tanaman
yang berhabitat di daerah dataran rendah. Kemuning termasuk kelompok tanaman
obat sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan obat.
Penggunaan pupuk dengan urea yang masih tergolong sangat sederhana. Tanaman
Iler merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di dataran rendah dan juga
termasuk tanaman obat. Sehingga tanaman iler banyak di manfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan obat. Pengendalian hama dan penyakit petani banyak menggunakan
pestisida kimia.
5.2
Saran
Seharusnya penanganan hama dan penyakit tanaman kedelai,
kemuning, dan iler tidak menggunakan pestisida. Penggunaan pestisida yang
berlebihan justru akan merusak tanah dan organisme yang bermanfaat bagi tanaman
itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Apriyana, Y. Dan T. E.
Kailaku. 2015. Variabilitas iklim dan dinamika
waktu tanam padi di wilayah pola hujan monsunal dan equatorial. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon, 1(2):
366-372.
Barus, M., R. Rogomulyo dan S. Trisnowati. 2013. Pengaruh
Takaran Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wijen (Sesamum Indicum L.)
Di Lahan Pasir Pantai. Vegetalika,
2(4): 45-54.
Hidayat, T. 2011. Analisis Perubahan Musim dan Penyusunan Pola tanam
Tanaman Padi Berdasarkan Data Curah Hujan di Kabupaten Aceh Besar. Agrists, 15(3): 87-93.
Kusuma, A., E. H. Kardhinata dan M. K. Bangun. 2013. Adaptasi Beberapa
Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Pada Dataran Rendah
Dengan Pemberian Pupuk Kandang Dan Npk. Agroteknologi, 1(4): 909-918.
Obi, N. I. 2014. The Influence of Vegetation on Microclimate in Hot Humd
Tropical Environment-A Case of Enugu Urban. Energy and
Environmental Research,
2(2): 28-38.
Raney, P. A., J. D. Fridley and D. J. Leopold. 2013. Characterizing Microclimate and Plant Community Variation
in Wetlands. Wedlands, 2(13): 1-7.
Sunarjono, H. 2013. Berkebun
26 Jenis Tanaman Buah. Jakarta. Penebar Swadaya.
Wahyu, Y., A. P. Samosir dan S. G. Budiarti. 2013. Adaptasi Genotipe
Gandum Introduksi di Dataran Rendah. Agrohorti,
1(1): 1-6.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar